ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Shalat
dhuha adalah amal istimewa. Banyak keajaiban seputar rezeki menghampiri mereka
yang rutin menjalankan shalat Dhuha. Salah satunya pemuda ini, sebut saja
namanya Abdullah.
Awalnya,
Abdullah tidak terlalu perhatian dengan shalat dhuha. Apalagi, pekerjaannya di
sebuah perusahaan swasta di Surabaya sangat padat di waktu
dhuha.
Ketika
ia berpindah kerja yang lebih longgar waktunya, secara kebetulan ia juga
mengetahui keutamaan sholat dhuha. Bahwa shalat dhuha diwasiatkan Rasulullah
untuk senantiasa dikerjakan, shalat dhuha dua rakaat senilai 360 sedekah, shalat
dhuha empat rakaat membawa kecukupan sepanjang hari, bahkan shalat dhuha
berpahala umrah.
Jadilah
Abdullah memulai shalat Dhuha. Dan keajaiban demi keajaiban pun mengalir sejak
hari-hari pertama.
Selang
sekitar tiga jam setelah Abdullah menunaikan shalat Dhuha, seorang rekan kerja
mentraktirknya. “Alhamdulillah, makan siang gratis,” kata Abdullah mensyukuri
nikmat di hari pertama ia berkomitmen merutinkan shalat dhuha. Mungkin bagi
orang lain mendapat traktiran makan siang bukanlah rezeki, namun bagi Abdullah,
ia mulai menghubungkannya dengan shalat dhuha. Terlebih di hari kedua ada rezeki
lain yang datang.
“Ini
untuk apa, Bos?” Abdullah terkejut mendapatkan amplop dari
atasannya.
“Semacam
bonus lah,” jawab atasannya sembari tersenyum.
Jika
ditraktir adalah hal sangat biasa bagi banyak orang, mendapatkan rezeki nomplok
berupa bonus yang tak diperkirakan sebelumnya benar-benar keajaiban bagi
Abdullah. Ini membuatnya sangat bersemangat merutinkan shalat
dhuha.
Di
hari ketiga, Abdullah menanti-nanti kira-kira dapat rezeki apa ia hari ini.
Sejak pagi diperhatikannya segala hal yang terjadi. “Nggak ada rezeki nomplok
nih hari ini,” simpulnya setelah jam kerja hampir
usai.
“Astaghfirullah,”
Abdullah terhenyak. Mengapa ia jadi sangat materialis memperhitungkan rezeki
setelah shalat dhuha. Padahal ia sudah tahu konsep ikhlas; beribadah semata
karena Allah, bukan karena ingin mendapatkan dunia. Kalau ia jadi tak semangat
shalat dhuha karena tak ada rezeki nomplok, itu adalah indikator ke-tidak
ikhlas-an. Jika ikhlas, semestinya amal ibadahnya tak terpengaruh dengan hal-hal
duniawi yang ia dapatkan atau tidak.
Abdullah
bertekad untuk tidak menghitung-hitung balasan duniawi yang ia dapatkan dari
shalat dhuha, meskipun ia masih memiliki keyakinan bahwa salah satu faedah
shalat dhuha adalah memperlancar rezeki. Ia berusaha lebih ikhlas, meskipun ia
masih meyakini bahwa meminta kepada Allah tidak harus dipertentangkan dengan
keikhlasan.
“Bruakkk!”
Abdullah terkejut setengah mati. Sebuah motor menabrak motornya dari belakang.
Ia sempat oleng, namun tidak terjadi apa-apa. Justru motor yang menabraknya itu
yang jatuh. Seketika lalu lintas di belakangnya menjadi macet. Ia hendak
berhenti, tapi sejumlah orang yang sigap menolong penabraknya itu mempersilahkan
untuk melanjutkan perjalanan. “Terus saja, Mas. Terus saja. Mas nggak salah.
Biar kami urus.”
Rupanya
itu keajaiban di hari ketiga. Nilai materi dan keselamatannya lebih besar
dibandingkan bonus yang diterimanya di hari kedua.
Abdullah
tertegun. Betapa Maha Pemurahnya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baru saja ia
merutinkan shalat dhuha, keajaiban demi keajaiban telah dirasakannya. Dan itu
terus berlanjut di hari, bulan dan tahun berikutnya. Semoga Abdullah mau
menuturkannya kembali kepada Bersamadakwah untuk dibagikan kepada
pembaca.
Anda
juga pernah mengalami keajaiban shalat Dhuha? [Muchlisin
BK/Bersamadakwah]

0 Response to "Pemuda Ini Panen Rezeki, Ternyata Inilah Amalan yang Senantiasa Dia Lakukan... Masya Allah, AYO KITA JUGA BISA !"
Posting Komentar