ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Ustadz
Khalid Basalamah pernah menggelar pengajian dzikrul maut di sebuah masjid.
Selama dua jam, materi tentang kematian dibahas tuntas. Di akhir sesi, ia
menawarkan kepada jamaah, siapa yang siap melakukan simulasi menjadi jenazah
selama lima menit.
Panitia
telah menyiapkan segala keperluan. Mulai meja, kain kafan, menyan, hingga
menggali liang lahat di dekat masjid tersebut.
Seorang
tukang batu bersedia menerima “tantangan” itu. Ia pun naik ke atas meja,
berbaring di sana untuk dipakaikan kain kafan.
“Subhanallah…
begitu dia naik di atas meja, begitu ditutup matanya dan ditempeli kain kafan
di pipinya, langsung dia nangis. Nangis terisak-isak,” tutur Ustadz Khalid
Basalamah.
Lalu
panitia menyedekapkan tangan pria tersebut dan membungkuskan kain kafan. Dua
adik kembarnya yang ada di sebelah meja juga tak kuasa menahan air mata. Mereka
membayangkan jika kakaknya benar-benar meninggal.
“Hiruk
pikuk orang di masjid ini, baik yang sedang menangis atau sedang mengobrol,
anggap mereka adalah orang yang ada di rumah Anda saat Anda meninggal,” kata
Ustadz Khalid Basalamah kepada pria itu.
“Pak,
sekarang bayangkan semua amal shalih yang berpeluang Anda kerjakan mulai dari
shalat malam, puasa sunnah, sampai berbakti kepada orang tua namun Anda
lewatkan, Anda sia-siakan. Dan bayangkan setiap peluang dosa yang tidak Anda
sia-siakan. Peluang zina Anda kerjakan, riba Anda lakukan. Anda tidak sempat
bertaubat dan Allah akan menghukum Anda sekarang”
Mendengar
ini, pria tersebut semakin sesenggukan. Tangisnya semakin tak tertahankan.
Setelah
itu, panitia mendatangkan keranda jenazah. Pria itu dimasukkan ke dalam keranda
dan dibawa ke liang lahat.
Setelah
diturunkan ke liang lahat, pria itu disuruh membuka matanya. “Pak, inilah rumah
Anda sekarang. Sebentar lagi Anda akan ditanya oleh dua malaikat.”
Kurang
dari lima menit berada di liang lahat. Saat keluar dari liang lahat, ia
sempoyongan. Sesampainya di masjid, ia disuruh menceritakan apa yang
dirasakannya menjadi jenazah.
Ia
memegang mic dengan gemetaran. Suaranya parau. Kata-katanya terhalang isak
tangis.
“Saya
taubat Pak Ustadz… taubat. Saya sering meninggalkan shalat, saya kurang
berbakti pada orang tua…” Dosa-dosa disebutkannya satu per satu, padahal di
masjid ada ribuan orang. Ia seperti tak peduli. Lima menit menjadi jenazah telah
memberinya kesadaran baru. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

wahh good info banget nih
BalasHapuskandungan tolak angin