ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Inilah sebuah kisah nyata yang mungkin
bisa memberikan gambaran bagi para wanita tentang azab di tanah suci karena hal
yang mungkin saja sudah biasa dilakukan namun tanpa disadari malah mengundang
dosa.
Banyak sudah kita mendengar perihal
penghuni neraka yang sebagian besar ialah para wanita? Lantas mengapa bisa
sampai seperti itu? Ternyata di dalam sebuah hadist diceritakan alasan mengapa
neraka penduduk mayoritasnya adalah para wanita.
Seselesainya dari shalat Kusuf (shalat
Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan surga dan
neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat,
وَرَأَيْتُ
النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ.
قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟
قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ
الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah
sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata
mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita
menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan
kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu
kufur kepada Allah?”
Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan)
mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau
berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu
saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia
akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR.
Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).
Menelisik dari hal tersebut, inilah
sebuah kisah nyata yang mungkin saja mampu menggambarkan bagaimana pedihnya
siksa neraka bagi seorang perempuan yang lalai dari perintah-Nya. Bahkan wanita
tersebut sampai menangis dan membuat seorang ustazah merinding karenanya.
Berikut kisahnya.
Selama hampir 9 tahun menetap di Mekah
sambil menguruskan jemaah haji dan umrah, saya telah melalui berbagai
pengalaman menarik dan yang pahit. Bagaimana pun, dalam banyaknya peristiwa
yang saya alami, ada satu kejadian yg tidak akan pernah saya bisa lupakan.
Kisah ini terjadi kepada seorang wanita yg berusia di pertengahan 30-an pada
saat saya mengurus satu rombongan haji.
Setibanya wanita tersebut dan rombongan
haji di Lapangan Terbang Jeddah kami sambut deangn sebuah bus. Semuanya
terlihat riang sebab ini adalah pertama kalinya mereka melaksanakan haji.
Setelah itu saya membawa mereka menaiki bus dan dari situ, kami menuju ke
Madinah.
Alhamdulillah, segalanya berjalan lancar
hingga kami sampai di Madinah. Tiba di Madinah, semua orang turun dari bus.
Turunlah mereka satu persatu sampai tiba pada giliran wanita tersebut. Tanpa
sebab yang jelas tiba-tiba wanita itu jatuh tidak sadarkan diri, yang secara
langsung setelah menginjak bumi Madinah.
Sebagai orang yang diberi tanggung jawab
untuk mengurus jemaah itu, saya pun bergegas menuju ke arah wanita tersebut.
“Jemaah ini sakit” kata saya pada jemaah-jemaah yang lain.
Suasana yang tadinya tenang serta merta
bertukar menjadi cemas dan semua jemaah terlihat panik atas kejadian ini.
“Badan dia panas dan menggigil. Jemaah
ini tak sadarkan diri, cepat tolong saya, kita bawa dia ke rumah sakit” kata
saya. Tanpa membuang waktu, kami mengangkat wanita tersebut dan membawanya ke
rumah sakit Madinah yang terletak tidak jauh dari situ. Sementara itu, jemaah
yang lain diantar ke tempat penginapan masing-masing. Sampai di rumah sakit
Madinah, wanita itu masih belum sadarkan diri. Berbagai usaha dilakukan oleh
dokter untuk memulihkannya, namun semuanya gagal.
Sementara itu, tugas mengurus jemaah perlu
saya teruskan. Saya terpaksa meninggalkan wanita tersebut di rumah sakit. Namun
dalam kesibukan menguruskan jemaah, saya menghubungi rumah sakit Madinah untuk
mengetahui perkembangan wanita tersebut. Namun, saya diberi kabar bahwa dia
masih tidak sadarkan diri. Selepas 2 hari, wanita itu masih juga tidak sadarkan
diri. Saya makin cemas, maklumlah, itu adalah pengalaman pertama saya
berhadapan dengan situasi seperti itu.
Semua usaha untuk memulihkannya gagal,
maka wanita itu dibawa ke rumah sakit Abdul Aziz Jeddah untuk mendapatkan
perawatan lanjut sebab rumah sakit di Jeddah lebih lengkap kemudahannya
dibandingkan rumah sakit Madinah. Namun usaha untuk memulihkannya masih tidak
berhasil. Jadwal Haji harus diteruskan. Kami berangkat ke Mekah untuk mengerjakan
ibadah haji. Selesai haji, saya langsung pergi ke Jeddah. Malangnya, sampai
rumah sakit Abdul Aziz, saya diberitahu oleh dokter bahwa wanita tersebut masih
koma. Bagaimanapun, kata dokter, keadaannya stabil. Melihat keadaannya itu,
saya ambil keputusan untuk menunggunya di rumah sakit.
Setelah 2 hari menunggu, akhirnya wanita
itu membuka matanya. Dari sudut matanya yang terbuka sedikit itu, dia memandang
ke arah saya dan terus memeluk saya dengan erat sambil menangis terisak-isak.
Ketika itu saya sangat bingung, Saya bertanya kepada wanita tersebut,
“Kenapa kamu menangis?”
“Ustazah….saya taubat Ustazah. Saya
menyesal, saya takkan berbuat lagi hal-hal yang tidak baik. Saya bertaubat,
betul-betul bertaubat.”
“Kenapa kamu tiba-tiba ingin bertaubat?”
tanya saya masih dalam keadaan bingung. Wanita itu terus menangis terisak-isak
tanpa menjawab pertanyaan saya itu. Tidak lama kemudian dia bersuara,
menceritakan kepada saya mengapa dia berkelakuan demikian, cerita yang bagi
saya perlu diambil hikmahnya oleh kita semua.
Katanya, “Ustazah, saya ini sudah berumah
tangga, menikah dengan lelaki orang kulit putih. Tapi saya salah. Saya ini cuma
Islam pada nama dan keturunan saja. Saya tak pernah mengerjakan ibadah. Saya
tidak sholat, tidak puasa, semua amalan ibadah saya dan suami tidak pernah saya
kerjakan, rumah saya penuh dengan botol minuman.
Dengan suara tersekat-sekat, wanita itu
menceritakan, “Ustazah…Allah itu Maha Besar, Maha Agung, Maha Kaya. Semasa koma
, saya telah diazab dengan siksaan yg benar-benar pedih atas segala kesalahan
yg telah saya buat selama ini.
“Betulkah?” tanya saya terkejut. “Betul
Ustazah. Selama koma itu saya telah ditunjukkan oleh Allah tentang balasan yg
Allah beri kepada saya. Balasan azab Ustazah, bukan balasan syurga.
Saya rasa seperti diazab di neraka. Saya
ini seumur hidup tak pernah pakai jilbab. Sebagai balasan, rambut saya ditarik
dengan bara api. Sakitnya tidak bisa saya ceritakan dengan kata-kata.
Menjerit-jerit saya minta ampun minta
maaf kepada Allah.” “Bukan itu saja, buah [dada] saya pun diikat dan dijepit
dengan penjepit yangg dibuat daripada bara api, kemudian ditarik ke
sana-sini…putus, jatuh ke dalam api neraka. Buah [dada] saya hancur terbakar,
panasnya bukan main. Saya menjerit, menangis kesakitan. Saya masukkan tangan ke
dalam api itu dan saya ambil buah dada itu kembali .”
Tanpa mempedulikan pasien lain, suster
pun memperhatikan wanita itu terus bercerita. Menurutnya lagi, setiap hari dia
disiksa, tanpa henti, 24 jam sehari. Dia tidak diberi waktu untuk beristirahat
atau dilepaskan dari hukuman, sepanjang masa koma itu dilaluinya dengan azab yg
amat pedih.
Dengan suara terbata-bata, dengan
berlinangan air mata, wanita itu meneruskan ceritanya, “Hari ke hari saya
disiksa. Bila rambut saya ditarik dengan bara api, sakitnya terasa seperti
kulit kepala yg ikut terlepas. Panasnya juga menyebabkan otak saya terasa
seperti menggelegak.
Azab itu pedih…pedih yang amat
sangat…tidak bisa saya ungkapkan. Sambil bercerita, wanita itu terus meraung,
menangis terisak-isak. Terlihat dia betul-betul menyesal atas semua
kesalahannya. Saya pun termenung, kaget dan menggigil mendengar ceritanya. Sangat
pedih balasan Allah kepada umatnya yang ingkar.
“Ustazah… buat saya, Islam hanya nama
saja, tapi saya minum alkohol, saya main judi dan segala macam dosa besar.
Karena saya suka makan dan minum apa yang diharamkan Allah, semasa tidak
sadarkan diri itu saya telah diberi makan buah-buahan yang berduri tajam.
Buah yang tak berisi melainkan hanya
duri-duri saja, tapi saya sangat ingin memakannya, karena saya benar-benar
merasa lapar.
“Bila ditelan buah-buah itu, duri-durinya
menusuk kerongkongan saya dan bila sampai ke perut terasa menusuk perut saya.
Sedangkan jari yang tertusuk jarum pun terasa sakitnya.
Setelah buah-buah duri itu habis, saya
diberi makan berupa bara-bara api. Pada saat saya masukkan bara api itu ke
dalam mulut, seluruh badan saya rasanya seperti terbakar hangus. Panasnya cuma
Allah saja yang tahu.
Api yang ada di dunia ini tidak akan sama
dengan kepanasannya. Setelah memakan bara api itu, saya meminta minuman, tapi…saya
dihidangkan dengan minuman yang dibuat dari nanah. Baunya cukup busuk, saya
terpaksa meminumnya sebab saya sangat merasa haus. Semua terpaksa saya lalui,
tak pernah saya alami sepanjang hidup di dunia ini.”
Saya terus mendengar cerita wanita itu
dengan tekun. Sangat terasa kebesaran Allah. “Semasa diazab itu, saya merayu
memohon kepada Allah supaya diberikan nyawa sekali lagi, berilah saya peluang
untuk hidup sekali lagi. Tak berhenti saya memohon. Saya berjanji tidak akan
mengulangi kesalahan saya. Saya berjanji tidak akan ingkar atas perintah Allah
dan akan jadi umat yg soleh. Saya berjanji kalau saya dihidupkan kembali, saya
akan perbaiki segala kekurangan dan kesalahan saya dahulu, saya akan mengaji,
akan sholat, akan puasa yang selama ini saya tinggalkan.”
Saya termenung mendengar cerita wanita
itu. Benarlah, Allah itu Maha Agung dan Maha Berkuasa. Kita manusia ini tak
akan terlepas dari balasanNya. Kalau baik amalan kita maka baiklah balasan yang
akan kita terima, kalau buruk amalan kita, maka azablah kita di akhirat kelak.
Alhamdulillah, wanita itu telah
menyaksikan sendiri kebenaran Allah. “Ini bukan mimpi ustazah. Kalau mimpi
azabnya tidak akan terasa sampai sepedih ini. Saya bertaubat Ustazah, saya tak
akan ulangi lagi kesalahan saya. Saya bertaubat… saya taubat Nasuha,” katanya
sambil menangis-nangis. Sejak itu wanita tersebut benar-benar berubah. Bila
saya membawanya ke Mekah, dia menjadi jemaah yang paling khusuk.
Amal ibadahnya tak pernah berhenti.
Contohnya, kalau wanita itu pergi ke masjid pada waktu maghrib, dia hanya akan
balik ke hotelnya selepas sholat subuh. “Kenapa melakukan ibadah sampai tidak
ingat waktu? kamu juga harus menjaga kesehatan. Pulanglah setelah sholat Isya,
makan nasi atau istirahatlah sejenak…” tegur saya.
“Tidak apa-apa Ustazah. saya membawa buah
kurma. saya memakannya disaat saya merasa lapar.” Menurut wanita itu, sepanjang
berada di dalam Masjidil Haram, dia ingin membayar sholat yang ditinggalkannya
dahulu.
Selain itu dia berdoa, mohon kepada Allah
supaya mengampunkan dosanya. Saya kasihan melihatkan keadaan wanita itu, takut
karena ibadah dan tekanan perasaan yang keterlaluan dia akan jatuh sakit. Jadi
saya menasihatkan supaya tidak beribadah keterlaluan hingga mengabaikan
kesehatannya.
“Tidak boleh Ustazah. Saya takut…saya
sudah merasakan pedihnya azab Tuhan. Ustazah tidak merasa, Ustazah tidak
mengetahui rasanya. Kalau Ustazah sudah merasakan azab itu, Ustazah juga akan
menjadi seperti saya. Saya betul- betul bertaubat.”
Wanita itu juga berpesan kepada saya,
katanya, “Ustazah, kalau ada perempuan Islam yang tak pakai jilbab, Ustazah
ingatkanlah pada mereka, pakailah jilbab. Cukuplah saya saja yang merasakan
siksaan itu, saya tidak mau ada wanita lain yang merasakan hal seperti yang
saya sudah rasakan.
Semasa diazab, saya melihat
larangan-larangan Allah, salah satunya adalah setiap sehelai rambut wanita
Islam yang sengaja diperlihatkan kepada lelaki yang bukan mahromnya, maka dia
diberikan satu dosa. Kalau ada 10 lelaki yang bukan mahrom melihat sehelai rambut
saya ini, maka saya mendapatkan 10 dosa.”
“Tapi Ustazah, rambut saya ini banyak
jumlahnya, beribu-ribu. Kalau seorang melihat rambut saya, itu berarti
beribu-ribu dosa yang saya dapat. “Saya berniat, sepulang saya dari haji ini,
saya minta tolong dari ustazah supaya mau mengajarkan suami saya sholat, puasa,
mengaji, dan mengerjakan semua ibadah.
Saya ingin mengajak suami pergi haji.
Seperti saya, suami saya itu Islam pada nama saja. Tapi itu semua adalah
kesalahan saya. Saya sudah membawa dia masuk Islam, tapi saya tidak membimbing
dia. Bukan itu saja, sayalah yang menjadi seperti orang yang bukan Islam.”
Sejak kembali dari haji itu, saya tidak
mendegar cerita tentang wanita tersebut. Bagaimana pun, saya percaya dia sudah
menjadi wanita yang benar-benar solehah. Adakah dia berbohong kepada saya
tentang ceritanya diazab semasa koma? Tidak. Saya percaya dia berkata benar.
Jika dia berbohong, kenapa dia berubah dan bertaubat Nasuha? Satu lagi, cobalah
bandingkan azab yang diterimanya itu dengan azab yang digambarkan oleh Allah
dan Nabi dalam Al-Quran dan hadish. Adakah ia berbohong ?
Benar, apa yang terjadi itu memang kita
tidak dapat membuktikannya secara saintifik, tapi bukankah soal dosa dan
pahala, syurga dan neraka itu perkara ghaib?
Janganlah bila kita sudah meninggal
dunia, bila kita sudah diazab barulah kita mau percaya bahwa “Oh… memang betul
apa yang Allah dan Rasul katakan. Aku menyesal…” Itu sudah terlambat. Raihlah 5
peluang sebelum datang 5 rintangan, Kaya sebelum miskin, Senang sebelum susah,
Sehat sebelum sakit, Muda sebelum tua dan waktu Hidup sebelum mati
Walahualam Bisawab, Semoga kisah ini
membawa kita menjadi umat yang lebih mengerti bahwa dunia bukanlah tempat
terakhir, masih ada akhirat, masih ada alam lain yang sudah menanti kita
sebagai mana dituliskan dalam Al Qur’an. Semoga kita menjadi umat yang
senantiasa beribadah kepada Allah.
0 Response to "[Kisah Nyata] Seorang Wanita yang Kena Azab di Tanah Suci, Bahkan Ustadzah Ini Sampai Merinding Karenanya"
Posting Komentar