ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
![]() |
| Foto : ilustrasi google |
Niat baik tidak selamanya dianggap
baik, mungkin inilah yang dialami seorang pemuda yang tinggal di pelosok sebuah
desa di daerah Bekasi.
Daud Dzal Aidi,
begitulah nama lengkap pemuda tersebut, seperti sebuah nama nabi yang tercantum
di dalam Al-Quran pada surat Shad [38] ayat 17, “Daud yang memiliki
kekuatan”.
Orang tua Daud
bukan seorang ulama, tapi kedua orang tuanya cinta terhadap ulama, nama anaknya
itu pun adalah sebuah pemberian dari seorang ajengan yang alim dan hafizh di
daerah Garut.
Daud adalah
seorang pemuda yang polos, bisa dikatakan belum banyak terinfeksi pergaulan
bebas anak muda zaman sekarang. Daud pun tidak terbiasa bergaul dengan lawan
jenis terlalu jauh, hanya sekadar muamalah biasa.
Namun ternyata
Daud memendam perasaan terhadap seorang wanita yang pernah ditemuinya sekilas
dalam acara seminar remaja Islam di Jakarta, Fatimah namanya, kebetulan Daud
menjadi panitianya dan Fatimah yang membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Daud
terkesan dengan suara indah dan lengkingan ayat-ayat yang dibacakan oleh Fatimah
seakan sudah menguasai betul nagham dalam ilmu tilawah, mulai dari bayati,
shoba, hijaz dan sebagainya.
***
Singkat cerita
tiga bulan kemudian, Daud rupanya sudah ada niat ingin melamar Fatimah, sinyal
cinta itu timbul begitu saja, percakapan seperlunya pun hanya melalui pesan
singkat sms.
“Fatimah, saya
mau silaturahim ke rumah orang tua kamu, boleh saya minta alamat lengkapnya,
maaf jika kurang berkenan,” setelah berpikir panjang dengan kata-katanya
akhirnya sms itu terkirim juga.
“Iya kak,
silakan datang saja, rumah orang tua saya yang bercat putih percis di dekat
gerai batik, atau tanya saja di mana rumah Bapak Ahmad Mubarak, insya Allah
semua tahu.” Balas Fatimah dengan perasaan penuh harap dan
cemas.
Setelah mencari
sana-sini bersama kawan akrabnya, Amir, Daud pun akhirnya sampai juga di
kediaman orang tua Fatimah di bilangan Jakarta. Dengan sedikit perasaan tegang
karena pengalaman pertama menghadap orang tua calon belahan jiwa yang ingin
dilamar, sebagai sahabat Amir pun langsung menyejukkan suasana agar Daud tetap
tenang dan santai.
Masuklah mereka
setelah diizinkan oleh tuan rumahnya, kemudian bersalaman kepada bapak dan
ibunya Fatimah, obrolan pun dimulai dan inilah yang
terkenang.
“Fatimah sudah
banyak cerita tentang kamu, ayah pun paham kondisi kejiwaannya ketika dia
menyukai sesuatu yang diinginkan, dan ngambeknya dia ketika keinginannya tidak
tercapai, tapi dia lebih dewasa dari kakaknya, Aisyah.” Ujar ayah Fatimah dengan
penuh wibawa menjelaskan tentang tabiat dan sedikit kepribadian anak
perempuannya itu.
“Iya pak,
maksud kedatangan saya pun ke sini untuk silaturahim dan juga ada niat ingin
mengkhitbah Fatimah putri bapak, itu pun jika belum ada yang taqdim (mengajukan
lamaran), mohon maaf bila kurang berkenan dan terkesan kurang sopan, jika
diterima saya akan langsung bicara ke orang tua saya di kampung untuk mengadakan
proses khitbah secara resmi,” Daud pun menjelaskan maksud kedatangannya hendak
melamar Fatimah. Meski agak sedikit gugup, namun Daud akhirnya merasa
plong.
“Maaf ya Daud,
ibu bukannya tidak percaya sama kamu, ibu cuma khawatir bagaimana nanti
kehidupan rumah tangga anak ibu jika kamu sendiri belum memiliki pekerjaan
tetap. Sebenarnya ibu pun sudah punya calon untuk Fatimah, putranya kawan ibu
yang kebetulan masih satu kantor sama bapak, dia sudah siap segalanya.” Sang ibu
langsung memotong pembicaraan karena sudah tahu di mana keluarga Daud tinggal,
yaitu di kampung pedesaan.
Daud paham dan
sadar bahwa dirinya bukanlah anak orang berada, sebenarnya Daud pun tidak
mengetahui sebelumnya kalau ternyata Fatimah anak seorang pejabat yang
disegani.
“Iya bu, saya
paham kondisi saya sekarang, tapi saya tetap berusaha memiliki pekerjaan yang
halal dan baik, tentunya saya pun merasa nyaman dengan pekerjaan itu, tidak
gelisah. Saya berterima kasih kepada ibu dan bapak karena sudah menerima saya
untuk bersilaturahim, saya mohon maaf jika kehadiran saya mengganggu waktu ibu
dan bapak.”
Daud pun pamit
kepada kedua orang tua Fatimah, sebelum meninggalkan rumah, ayahnya Fatimah
menghampiri Daud di pintu gerbang rumahnya, beliau berkata kepada
Daud,
“Nak, ayah
sangat bangga kepadamu atas keberanian kamu hendak melamar Fatimah, ayah
sebenarnya setuju saja jika kamu nantinya menjadi imam buat Fatimah, rasanya
baru kemarin ayah mengasuh dan mendidiknya, ternyata Fatimah sekarang sudah
dewasa. Maaf ya nak, ayah tidak tahu kalau ternyata ibu sudah mempunyai calon
suami buat Fatimah. Kamu harus menjadi lelaki yang kuat, tetap berikhtiar, dan
tentunya harus menyertakan Allah dalam setiap keputusanmu, ayah doakan kamu
mendapatkan calon istri yang terbaik.”
Nasihat ayah
Fatimah yang cukup bijak.
“Terima kasih
pak, semoga putri bapak juga mendapatkan calon suami yang bisa membimbing
Fatimah dalam mahligai pernikahan yang diridhai Allah
ta’ala.”
Daud pun
mencium tangan ayah Fatimah sebagai rasa takzim kepadanya dan langsung
berpamitan.
“Kak, maafkan
Fatimah dan kedua orang tua Fatimah jika silaturahim kakak jadi kurang berkesan,
Fatimah tidak tahu jika ibu ingin menjodohkan Fatimah dengan orang lain. Fatimah
akan bicara ke ibu kalau Fatimah tidak mau dijodohkan. Kak, besok Fatimah mau
kembali ke KL, melanjutkan kuliah. Doakan Fatimah.”
Fatimah
langsung mengirimkan sms ke Daud, ia merasa sangat khawatir jika Daud
kecewa.
“Tidak ada yang
perlu dimaafkan dan tidak ada yang salah, justru saya yang mohon maaf. Ikuti
saja nasihat ibu, beliau tahu mana yang baik untuk anaknya, jangan mengikuti
hawa nafsumu. Kakak doakan semoga perjodohan itu bisa membuat kamu lebih fokus
dalam belajar karena sudah jelas tujuan hidupnya.” Tutup Daud seraya mendoakan
yang terbaik untuk Fatimah.
***
Hari berganti
hari, tepat pada hari Sabtu pagi setelah shalat subuh, terlihat Daud khusuk
mendengarkan pengajian tafsir di sebuah masjid raya kota Bekasi yang dipimpin
ustad Abdul Hakim. Ustad Abdul Hakim adalah seorang imam besar yang sangat
masyhur keahliaannya dalam bidang tafsir Al-Quran, beliau lulusan Al-Azhar
Mesir, tak aneh bila setiap ada jadwal kajian masjid selalu penuh, banyak jamaah
dari jauh yang juga sengaja datang untuk mendapatkan pencerahan ilmu dan hikmah
darinya.
“وَأَنْكِحُوا الأيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Ayat 32 dari
surat An-Nur ini adalah anjuran untuk menikah, maksudnya, hendaklah laki-laki
yang belum menikah atau tidak beristri atau wanita-wanita yang tidak bersuami,
dibantu agar mereka dapat menikah.
Oleh karena
itu, anggapan bahwa apabila menikah seseorang dapat menjadi miskin karena banyak
tanggungan tidaklah benar. Dalam ayat ini terdapat anjuran menikah dan janji
Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka yang menikah untuk menjaga
dirinya.
Allah
mengetahui siapa yang berhak mendapat karunia agama maupun dunia atau salah
satunya dan siapa yang tidak, sehingga Dia berikan masing-masingnya sesuai
ilmu-Nya dan hikmah-Nya.
Jika sudah siap lahir bathin, segeralah
menikah!
Bagi yang belum
mampu, Allah telah menjelaskan pada ayat setelahnya. Allah memerintahkan kepada
kita untuk menjaga kesucian diri dan mengerjakan sebab-sebab yang dapat
menyucikan diri, seperti mengalihkan pikiran dengan menyibukkan diri dalam
kegiatan positif dan melakukan saran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu
berpuasa.”
Demikian salah
satu isi kajian ustad Abdul Hakim yang dibawakan dengan penuh kewibawaan dan
retorika yang lantang.
Ternyata tema
pembahasan tafsir kali ini sangat menyentuh hati dan perasaan Daud, dia terpana
dengan penggalan ayat ini, “Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kemampuan
kepada mereka dengan karunia-Nya”.
Setelah
pengajian usai, Daud pun langsung menghampiri sang ustad, rupanya dia ingin
bicara empat mata seraya mencurahkan masalah dan ujian hidup yang dialaminya
agar diberikan solusi yang tepat dan mencerahkan.
Akhirnya Daud
diajak ke kamar khusus imam di lantai 2 masjid. Dengan panjang lebar Daud
bercerita tentang semua hal yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, tak terasa
air mata Daud pun berlinang.
“Mas Daud,
kita tidak memiliki kemampuan untuk mengubah masa lalu dan tidak mampu
menggambarkan masa depan dengan gambaran yang kita kehendaki, lalu mengapa kita
bunuh diri sendiri dengan bersedih atas apa yang kita tak mampu
mengubahnya??!!
Bersabarlah
dengan skenario Allah yang indah.”
Banyak
kata-kata hikmah yang keluar dari lisan keikhlasan sang ustad, akhirnya Daud
bertekad ingin bangkit kembali, bangun dari tidur yang
panjang.
Ada satu azzam
Daud yang sungguh luar biasa, yaitu ingin mengkhatamkan hafalan Al-Quran 30 juz
dan memohon kepada ustad Abdul Hakim untuk mendengarkan hafalannya sampai
tuntas, karena hatinya bergetar ketika sang ustad menyarankan untuk menghafal
Al-Quran, sebab Al-Quran merupakan obat dari berbagai macam
penyakit.
Air mata Daud
pun langsung terurai menetes ketika ustad Abdul Hakim membacakan sebuah hadis
keutamaan seorang penghafal Al-Quran yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
Musnadnya,
“Dari
Buraidah al-Aslami Ra., ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah Saw.
bersabda, ‘Pada hari kiamat nanti, Al-Quran akan menemui penghafalnya ketika
penghafal itu keluar dari kuburnya. Al-Quran akan berwujud seseorang dan ia
bertanya kepada penghafalnya, ‘Apakah Anda mengenalku?’ Penghafal tadi menjawab,
‘Saya tidak mengenal kamu.’ Al-Quran berkata, ‘Saya adalah kawanmu, Al-Quran
yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada
malam hari. Sesungguhnya, setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang
dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan.’ Maka, penghafal
Al-Quran tadi diberi kekuasaan di tangan kanannnya dan diberi kekekalan di
tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota perkasa. Sedang kedua
orang tuanya diberi dua pakaian baru lagi bagus yang harganya tidak dapat
dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya,
‘Kenapa kami diberi pakaian begini?’ Kemudian dijawab, ‘Karena anakmu hafal
Al-Quran.’Kemudian, kepada penghafal Al-Quran tadi
diperintahkan, ‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surga dan
kamar-kamarnya.’ Maka, ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan
itu cepat atau perlahan (tartil).”
***
Setelah
melewati masa-masa sulit dalam menghafal Al-Quran, alhamdulillah akhirnya Daud
dapat mengkhatamkan hafalan Al-Quran dalam kurun waktu kurang lebih satu
tahun.
Ustad Abdul
Hakim merasa bangga dan terharu atas kegigihan dan kesungguhan Daud, ustad Abdul
Hakim pun memberikan sanad hafalannya ke Daud dan berpesan kepada Daud yang
dikutip dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh imam
Bukhari,
“Jagalah
Al-Quran, demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Al-Quran itu lebih cepat lepas
dari pada seekor onta dari ikatannya.” Sungguh nasihat yang penuh
makna.
Setelah itu
giliran Daud yang ingin diajak bicara empat mata oleh ustad Abdul Hakim, rupanya
ada satu hal penting lagi yang ingin disampaikan sang ustad berkaitan dengan
jodoh.
“Mas Daud,
maaf jika ini menyinggung perasaan mas Daud. Ada orang tua yang datang kepada
saya, kebetulan masih jamaah saya juga, namanya bapak Abdullah, seorang pemimpin
perusahaan elektronik di Jakarta, Ph.d lulusan Amerika, dia memiliki 3 putri
cantik, dia ingin minta dicarikan calon suami untuk anaknya, kriterianya hanya
bisa membimbing putrinya dalam hal agama, menjadi imam yang baik buat putrinya.”
Dengan penuh kehati-hatian ustad Abdul Hakim menyampaikannya, tapi tetap dengan
kekhasan senyuman di wajahnya yang bersinar.
“Sebelumnya
saya berterima kasih karena ustad sudah menyampaikan hal itu, tapi saya mohon
maaf, bukan saya menolak, tapi saya takut tidak bisa mengikuti keinginan yang
biasa keluarga dia lakukan, karena saya terbiasa hidup sederhana dan memang dari
keluarga sederhana.” Jawab Daud juga dengan rona wajah takut mengecewakan
perasaan guru ngajinya itu.
“Ya sudah,
sekarang kamu istikharah, jangan lupa hal ini diberitahu ke orang tuamu di
kampung.” Demikian nasihat Ustad Abdul Hakim kepada
Daud.
“Insya Allah,
ustad.” Tutup Daud.
***
Pucuk dicinta,
ulam pun tiba. Akhirnya Daud pun menemukan belahan jiwanya, putri bungsu bapak
Abdullah, Nourhan Abdullah. Putri bungsu yang manja dan ceria, lulusan Psikologi
Universitas Indonesia, itulah bidadari surga yang dipersunting Daud menjadi
istrinya.
Kini hidup Daud
penuh keberkahan, dia memimpin sebuah pesantren tahfizh modern di Bogor, yang
juga mempelajari sains dan iptek (ilmu pengetahuan dan
teknologi).
Pesantren
Al-Quran dan Teknologi Fakhruddin Ar-Razi, Daud mengambil berkah dari nama
seorang ulama yang sangat terkenal dan sangat berpengaruh pada masanya itu. Ia
menguasai berbagai disiplin keilmuan baik di bidang ilmu-ilmu sosial maupun
bidang ilmu-ilmu alam (eksakta). Ar-Razi juga seorang sastrawan, penyair, ahli
fiqh, ahli tafsir, ahli hikmah, ahli ilmu kalam, seorang dokter medis dan
sebagainya. Sehingga tidak diragukan lagi banyak para ilmuwan yang belajar
kepada beliau baik para ilmuwan dalam negeri maupun para ilmuwan luar
negeri.
***
Salah satu
pelajaran yang bisa dipetik dari kisah di atas adalah, “Kalau datang kepadamu
seorang laki-laki yang kamu sukai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah. Kalau
tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.” Demikian
pesan nabi Muhammad Saw. kepada para orang tua, khususnya yang memiliki putri
yang belum menikah.
Sangat wajar
bila para orang tua memiliki kekhawatiran terhadap nasib anak-anak mereka di
masa mendatang, khususnya anak perempuan. Namun Rasulullah Saw. telah memberikan
petunjuk dalam memilihkan jodoh untuk anak perempuan. Kuncinya ada dua: agama
dan akhlak, karena agama tanpa akhlak akan cacat, sedangkan akhlak tanpa agama
percuma. (Dakwatuna)

0 Response to "Masya Allah...!! Lamarannya Ditolak, Pemuda Ini Nekat Menghafal Al-Quran, Inilah yang Terjadi Berikutnya..!"
Posting Komentar