ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Hanya karena hal
ini, wanita ini malah merelakan jilbabnya dilepas dan pada akhirnya akibat tak
terduga pun menimpanya.
Jilbab merupakan
bagian dari syari’at yang penting untuk dilaksanakan oleh seorang muslimah. Ia
bukanlah sekedar identitas atau menjadi hiasan semata dan juga bukan penghalang
bagi seorang muslimah untuk menjalankan aktivitas kehidupannya. Menggunakan
jilbab yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah wajib dilakukan oleh setiap muslimah, sama seperti ibadah-ibadah lainnya
seperti sholat, puasa yang diwajibkan bagi setiap muslim.
Ia bukanlah
kewajiban terpisah dikarenakan kondisi daerah seperti dikatakan sebagian orang
(karena Arab itu berdebu, panas dan sebagainya). Ia juga bukan kewajiban untuk
kalangan tertentu (yang sudah naik haji atau anak pesantren).
Benar saudariku…
memakai jilbab adalah kewajiban kita sebagai seorang muslimah. Dan dalam
pemakaiannya kita juga harus memperhatikan apa yang telah diajarkan oleh Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Haruslah istiqamah dalam memakainya,
bukan hanya pada saat tertentu ataupun karena sebab tertentu.
Karena jangan sampai
hal seperti kisah ini terjadi pada kalian wahai saudariku. Sebuah kisah yang
bermula ketika ada wanita yang membuka jilbabnya karena karir, dan selanjutnya
pun bisa dilihat bersama berikut ini.
Satu pesan BBM
masuk. Dari seorang junior waktu sekolah yang juga pernah sama-sama bekerja di
kantor lama kami.
“Kak, aku diterima
jadi resepsionis di salah satu PT di kawasan XXX.”
Aku pun segera
mengetik balasan, “Ohya? Wahh … Alhamdulillah yaa, Mawar! Selamat!”
“Tapi Kak ….”
“Tapi apa?”
“Aku harus lepas
jilbab.”
Hatiku seketika
bergemuruh.
Bagaimana mungkin
Mawar (bukan nama sebenarnya) bisa goyah begini. Gadis cantik yang belum lama
menggunakan hijab itu kan tahu sendiri, bagaimana reaksi orang-orang di kantor
keempatku, waktu ada salah satu karyawatinya yang melepas jilbab. Ternyata
setelah ditelusuri penyebabnya, tak lain karena dia nekat berpacaran dengan
pria non muslim. Sudah pacaran … dengan non muslim pula. Belum nikah saja,
jilbab sudah ditanggalkan. Bagaimana kalau sudah menikah? Masihkah iman Islam
terpatri dalam hati?
“Astaghfirullah,
War. Jangan,” ketikku mengingatkan.
“Tapi, Kak. Aku
butuh pekerjaan. Kakak kan tahu, aku harus ngebiayain kuliah sendiri.”
“Iya, aku tahu, War.
Tapi apa kamu gak percaya, Allah lah Yang Maha Pemberi rezeki?”
“Percaya, Kak. Tapi
aku bener-bener buntu, Kak. Aku harus dapet pekerjaan secepatnya.”
“Loh, waktu di sini,
kamu mau diperpanjang kontraknya dan boleh berjilbab, kamu gak mau.”
“Iya Kak. Tapi kalo
di situ aku udah nggak betah. Orang-orangnya rese. Kakak sendiri kan juga mau
resign dari situ?” Mawar kembali menyanggah.
“Iya, Mawar. Aku
tahu. Tapi, setidaknya di sini kamu boleh berjilbab. Walaupun di sini gajinya
di bawah UMR, setidaknya kita nggak disuruh lepas jilbab.”
“Iya sih, Kak.”
“Pikirin lagi
semuanya baik-baik, War. Istikharah. Belum tentu juga nanti di sana kamu
betah.”
“Aku kayaknya nggak
ada pilihan lain deh, Kak. Aku sudah tanda tangan kontrak. Senin depan aku
mulai kerja. Tapi di luar PT, aku tetap berjilbab kok, Kak.”
“Kenapa kamu baru
bilang setelah tanda tangan kontrak? Ya Allah, andai aku punya cukup uang buat
minjemin kamu bayar biaya kuliah, Mawar. Sedih aku. Ngerasa nggak guna jadi
temen.” Aku mengetik pesan dengan hati yang runyam.
Ketika melihat teman
baru berhijab, aku bahagia bukan kepalang. Begitu juga sebaliknya, ketika
mengetahui seseorang harus membuka hijabnya. Aku seketika lemas. Merasa gagal.
Berlebihan? Yaa … tapi sungguh itu yang kurasakan.
Kalian tahu apa yang
terjadi bahkan tak sampai sebulan kemudian? Mawar kembali mengirim pesan
padaku.
“Kak! Kakak benar.
Aku gak betah di sini, Kak!”
“Ya Allah, Mawar …
kenapa??”
“Kerjaanku di sini
ternyata nggak cuma jadi resepsionis, Kak. Tapi serabutan, bantuin kerjaan
bagian lain juga. Belum lagi, tiap hari lobby tempatku bekerja bau asap dupa.
Di sini juga ada beberapa patung yang dikramatkan, Kak.”
“Dikramatkan
gimana?”
“Iya. Patung-patung
itu dirawat khusus, Kak. Nggak boleh sampai kenapa-kenapa. Semacam sesuatu yang
sangat penting buat yang punya PT.”
“Astaghfirullah.
Terus gimana, Mawar?”
“Belum tahu, Kak.
Aku coba bertahan. Tapi kalau nggak kuat, mungkin aku akan resign.”
“Loh, bukannya kamu
udah tanda tangan kontrak selama beberapa bulan ke depan? Memangnya di sana
nggak ada pinalti?” tanyaku lagi.
“Ada sih, Kak.”
“Lahhh, terus?
Duitnya gimana?”
“Aku kabur aja
nanti, Kak. Biar nggak usah bayar uang pinalti, karena keluar sebelum kontrak
selesai.”
“Ya Allah, Mawar.”
“Huhuhu … aku
nyesel, Kak. Coba aja aku ikutin apa kata Kakak waktu itu.”
Entah bagaimana
caranya, berita terakhir yang kudapatkan akhirnya Mawar keluar dari PT itu. Dan
Alhamdulillah, saat ini dia sudah berjilbab kembali, bahkan lebih syar’i.
“Kali ini semoga
istiqomah yaa, Mawar. Belajar dari pengalaman kemarin.” Aku mengirim pesan,
usai mengetahui bahwa ia kembali berhijab.
“Iya, Kak. In Syaa
Allah. Aku nggak akan sampai lepas jilbab lagi! Doain aku ya, Kak.”
“As always, Dear.
Kita saling mendoakan yaa ….”
“Iya Kaaak.”
Ohya!
Temanku yang satu
lagi juga Alhamdulillah sudah putus dengan pacarnya. Dan kini ia pun berhijab
kembali. Doakan kami semua istiqomah yaa. Aamiin Yaa Robbal Alamiin.
Aku pun pernah
sampai melepas jilbab, saat pertama kali bekerja usai lulus SMK, pada tahun
2007. Menyesal bukan main. Karena perlakuan para lelaki ketika melihatku dengan
dan tanpa hijab, itu berbeda sekali. Padahal saat itu aku masih memakai penutup
kepala. Hanya saja leher dan tangan dari sikut ke bawah, kelihatan keman-mana.
Alhamdulillah.
Setahun kemudian, usahaku mencari pekerjaan lain, akhirnya membuahkan hasil.
Aku diterima di sebuah perusahaan yang membolehkan semua karyawatinya untuk
berhijab.
Untuk selanjutnya,
di perusahaan ketiga, keempat dan kelima yang tak lain adalah tempatku bekerja
sekarang, Alhamdulillah! Aku bebas menunaikan kewajibanku sebagai seorang
muslimah, yakni menutup aurat.
Tiga kali, ada
pengalaman interview dengan orang asing. Satu bule, orang Korea, dan yang
ketiga orang Jepang. Tentu perasaan ketar-ketir karena aku menolak berjabat
tangan dengan mereka. Yang sama orang Korea, tidak ada kelanjutan alias ditolak
bekerja di sana. Yang sama bule, juga Alhamdulillah sempat diberi tahu
diterima, cuma aku yang mundur, karena lokasi kerja yang ditawarkan di Meruya.
Terlalu jauh, bagiku yang tinggal di Bekasi.
Yang orang Jepang
ini lucu. Namanya Mr. Hiroyuki. Pada suatu kesempatan makan malam bersama teman
sebagian yang lain, seorang teman yang tidak berjilbab mendekati beliau untuk
difoto. Spontan, Hiroyuki-san berkata sambil memeragakan ‘jilbab’ dengan kedua
tangannya.
“Woman with … no
touch yaa? Kalau tidak pakai, boleh touch.” Beliau bingung menyebut jilbab itu
apa, makanya hanya memeragakan dengan menyatukan kedua tangannya, yang kemudian
dinaikkan ke atas kepala.
Kami tertawa. Maksud
beliau adalah : perempuan dengan penutup kepala tidak boleh disentuh ya? Kalau
tidak pakai, baru boleh.
See? Orang asing
yang bukan muslim pun bahkan bisa menyimpulkan demikian.
Eits!
Ini bukan berarti
kalian boleh touch touch wanita tanpa hijabbbbb yaaahhh! Awas lohhhh! Bukan
mahrooooom!
Pertahankan hijabmu
semampumu, saudariku.
Ingat! Bahkan ada
suatu informasi bahwa : perempuan-perempuan di Gaza tidur pun menggunakan
hijabnya. Ketika ditanya kenapa, jawaban mereka, “Agar jika sewaktu-waktu
rumahku dibom, jasadku dapat ditemukan dalam keadaan menutup aurat.”
Ma Syaa Allah!
Semoga kita semua
bisa senantiasa menjaga hijab ini hingga kematian menjemput kita kelak. Aamiin
Yaa Robbal Alamiin.
Oleh karena itulah
wahai saudariku, janganlah kita terpedaya dengan segala aktifitas dan perkataan
orang yang menjadikan seseorang cenderung merasa tidak mungkin untuk
menggunakan jilbab yang sesuai syari’at.
Ingatlah, bahwa
sesungguhnya tidak ada teman di hari akhir yang mau menanggung dosa yang kita
lakukan. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan ketika menjalankan
segala ibadah yang telah disyari’atkan.
0 Response to ""Ya Allah Maafkanlah Aku yang Telah Melepas Jilbab, Sekarang Akibat Ini Tetap Datang Padaku""
Posting Komentar