ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Naudzu
Billah Min Dzalik. Hai Anakku! Sungguh Semua Ini Salahku.. Bacalah Ini Buat
Yang Sayang Sama Anaknya.. Jangan Sampai Menyesal. HAI ANAKKU, SUNGGUH SEMUA
INI SALAHKU
Foto
ini diambil sekitar 2 tahun yang lalu. Usia rei baru hitungan bulan. Waktu itu
seorang teman di grup dengan sengaja berkomentar, "Jangan dikasih tv dong.
Kasian.. Anak umur segitu ga bagus kalau kena tv dan gadget."
Lalu
apa tanggapan saya?
Sebagai
ibu muda dengan tingkat emosi yang masih suka meledak-ledak, saya gak terima.
Sebagai ibu muda yang sedang berjuang dengan status barunya, saya sebel
dikomentarin.
Sebagai
ibu muda yang emang belum belajar banyak tentang parenting yang baik, saya ga
mau tau.
Karena...
orang yang komentar masih single.
Dalam
hati, saya malah balik nyinyir.
"Eh
kamu ya, nikah aja belom. Gatau rasanya jadi ibu. Gatau rasanya jadi stay at
home mom, yang ga punya pembantu. Berharap si bocah anteng sebentar biar ibunya
bisa masak ala kadarnya, sekedar makan setelah lemes disedot Asinya sama bocah,
sekedar mandi, sekedar rehat nonton tv. Kalau ga ada pengalihan gini. Mana bisa
emaknya ngerjain yang lain."
😒😒😒
Fix...
Saya membela diri.
Lalu...
Waktupun
berlalu...
Rei
makin kecanduan nonton kartun di TV. Favoritnya dulu adalah Marsha and the
bear. Yang jelas-jelas ngobrolnya pakai
bahasa rusia. 😩😩
Setiap saya ngerjain sesuatu, dia maunya nonton TV. Kalau enggak di setelin TV,
anak ini mengamuk dan tantrum.
Pikir
saya "Ah gapapa lah. Yang penting anteng. Bisa di sambi ngerjain urusan
rumah tangga."
Makin
lama....
Anak
ini beneran anteng banget kalau di depan tv. Dia bisa ketawa-ketawa sendiri
tiap si marsha jahil. Atau tiap si Bear jatuh guling-guling dikerjain marsha.
Kalau
acara marsha nya bubar, dia akan nangis mengamuk. Kalau g lagi nonton tv, dia
ngapain? Ya seperti lazimnya anak-anak, dia akan pecicilan kesana kemari mainan
apa aja. Memasuki usia setahun dimana seharusnya anak sudah mulai mengucap
beberapa kata dengan jelas, anak saya masih mengoceh pakai bahasa bayi. Mana
kalau ngamuk minta apa sukanya tantrum dengan aksi mukulin kepala atau
berguling-guling di lantai. Setiap dipanggil namanya, dia cuek-cuek aja.
Sampai
di sini... Saya dan suami mulai kewalahan, tapi masih menganggap wajar. Baru
setahun ini. Di amati dulu lah. Begitu pemikiran saya.
Secara
motorik memang ga ada keterlambatan dalam diri anak saya. Hanya beberapa hal
yang saya pikir (lagi-lagi menurut saya) WAJAR.
Apakah
itu?
1.
Anak saya dari bayi suka kagetan. Kalau ada suara keras seperti klakson mobil
atau orang teriak dia akan bangun sambil menangis. Mitosnya, kalau orang jawa
"Dulu pas baru lahir gak di gebrak ya?" 😓 😓
2.
Ketika sudah bisa jalan, dia suka sekali tiba-tiba jalan jinjit. Seperti tidak
mau kalau kakinya kotor. Dia juga ga suka tidur di selimutin (padahal pakai
AC). Dia ga mau menginjak karpet atau keset bulu-bulu.
3.
Setiap habis mandi lalu disisir rambutnya dengan sisir berbentuk sikat, anak
ini selalu terlihat tidak nyaman. Pernah bahkan sampai menangis.
Memasuki
usia 2 tahun anak saya masih juga belum bisa bicara. Jangan tanya seberapa
dongkolnya saya tiap dapat pertanyaan dari para kerabat "Kog belom bisa
ngomong sih?" atau ketika rei ngoceh "Haduuuuh cah ganteng, kamu
ngomong apa kog kayak bahasa alien." (Emangnya udah pernah ketemu alien?) 😌
Sampai
akhirnya demi memuaskan para pemberi kritik, saya bawa Rei ke sebuah klinik
tumbuh kembang.
Hasil
konsultasi pertama saat itu bikin saya seketika gak sreg.
Kenapa?
Hla
masa tiba-tiba dibilang anak saya 'speech delay mengarah ke Autis'.
HAH...
APAAA....!!!
Segampang
itukah menyatakan seorang anak itu Autis?
"Hallooo...
Gini-gini saya pernah dapat perkuliahan dengan materi Autisme ya. Seingat saya
tes untuk diagnosa autis itu buwaaanyaaak. Gak cuman di tes denver doang. Lalu
masa karena anak saya cueknya setengah mati, asyik dengan mainannya lalu bisa
dibilang autis. Gitu?
No
no no... "
Lagi....
Emosi dan ego "ibu muda" saya bergejolak.
Saya
gak terima. Titik.
Seketika
itu saya males membawa anak saya ke klinik tumbuh kembang lagi.
Tapi
dengan berbagai desakan, dan hasil perenungan saya sebagai seorang ibu yang
memang merasakan ada yang salah dengan tumbuh kembang anak, akhirnya saya
googling lagi. Mencari second opinion. Mencari pengalaman ibu-ibu lain dengan
anak yang belum bisa bicara sama sekali di usia 2 tahun. Mencari apapun yang
bisa saya ketahui dengan keyword "autisme", "speech delay",
"keterlambatan bicara" dan lain lain.
Akhirnya
saya menemukan klinik yang ga terlalu jauh dari rumah, bisa dijangkau sendiri
naik motor. Saya pun mendiskusikan lagi dengan suami.
Apa
katanya?
"Yang
bilang anak kita autis itu siapa? Gak usah di dengerin kenapa sih? Orang
anaknya baik-baik aja. Nanti kalau udah waktunya pasti juga bisa ngomong."
Hyaaak...
des... Suami saya pun sama ngeyelnya dengan saya dulu.
"Tapi
mas, kan ga ada salahnya juga cek lagi. Daripada aku kepikiran. Nanti, apapun
hasil tesnya seenggaknya kita tahu apa yang harus dilakuin. "
Ribut
lah kami malam itu.
Akhirnya
apa?
Saya
bawa Rei konsultasi lagi. Naik motor sendiri sambil gendong bocah pakai
babycarier.
Luaaaar
biasaaa kan.
Ayahnya
cuman saya watsap, "aku ke klinik udah janjian mau observasi Rei."
Selama kurang lebih satu jam penuh observasi dilakukan oleh terapis di klinik
tsb. Saya juga diharuskan mengisi form tanya jawab seputar riwayat kesehatan
kehamilan dan riwayat kesehatan anak sejak dia lahir. Masih dilanjutkan dengan
wawancara.
Selama
observasi, saya tidak diperbolehkan masuk ke ruangan. Dari luar terdengar suara
Rei yang menangis meraung-raung. Entah diapain itu bocah di dalam. Mau ngintip
pun rasanya gak tega. Ya Allah... kenapa lagi itu anak. Saya terus meneguhkan
hati kalau keputusan yang saya ambil ini tepat.
Hasil
dari observasi hari itu adalah anak saya benar-benar "Speech delay"
alias Terlambat Bicara.
😭😭
Mau
nangis aja rasanya. Merasa bersalah sama diri sendiri.
"Anak
baru satu aja kog ga bisa ngurusnya sih?"
"Kenapa
juga dulu ngasih anak TV !"
"Kenapa
dulu gak dengerin peringatan temen?"
"Kenapa?
Kenapa?"
"Semua
salahmu..."
Bermacam-macam
perdebatan dalam hati.
Tapi
mau gimana lagi lah. Nasi sudah jadi bubur. Kalau punya mesin waktu, mungkin
saya sudah balik ke masa dia masih bayi. Saya ga akan ngulangin kesalahan macam
ini lagi.
😭😭😭
Hei
nak.. Maafin ibumu..
Semua
ini salahku... 😭😭😭😭
***
Pertanyaan
saya ke terapis saat itu adalah "apakah speech delay itu berarti anak
autis?"
"Oh
enggak bu. Salah satu gejala anak autis memang telat berbicara. Tapi tidak
semua anak yang telat berbicara dikatakan autis. Untuk anak ibu, dia telat
bicara lebih dikarenakan kurangnya fokus dan cenderung hiperaktif. Dia perlu
diberikan kegiatan-kegiatan tertentu yang merangsang pusat sensorinya agar dia
fokus dan informasi bisa masuk. Itulah nanti yang kita namakan terapy sensory
integrasi. Selama ini kan anak cenderung suka nonton tv. Indranya asyik
menikmati gambar di tv, padahal secara sensori dia belum bisa menangkap gambar
yang bergerak cepat seperti tayangan TV.
Jadi
nantinya kita berikan terapi untuk membuka pusat sensori di otaknya. Selama
anak belum bisa menerima informasi yang masuk dengan benar, darimana dia bisa
merespon dengan benar juga. Ibaratnya kita mau masuk ruangan yang dikunci, ya
kita cari dulu kan kuncinya yang pas, biar kita bisa masuk lalu keluar
lagi."
Untuk
kasus anak ibu, kalau dilihat dari usianya yang baru 2 tahun masih termasuk
Golden Age. Kita akan berikan terapi untuk mengejar ketinggalannya. Beda dengan
kasus dimana anak baru dibawa kemari setelah usianya lewat dari 5 tahun.
Biasanya saya marahin itu orang tuanya "Kog baru dibawa sekarang sih pak
buk?!".
Anak-anak
speech delay yang cenderung lebih cepat ditangani akan lebih nampak hasilnya
dibandingkan yang sudah lewat golden age. Kalau sudah lewat 3 tahun saja,
penderita speech delay biasanya akan dilakukan tes untuk mendeteksi adakah
gejala-gejala autisme lain yang menyertai.
Alhamdulillah...
dapat penjelasan yang bagi saya masuk akal dan melegakan. Bukan sekedar
"hai buk, anakmu autis".
Menurut
sang terapis, penyebab speech delay itu bermacam-macam. Jadi nantinya
penanganannya disesuaikan dengan penyebabnya.
Dari
nomer 1-3 yang saya sebutkan di atas ternyata erat kaitannya dengan proses
sensori di otak anak. Itulah kenapa kelainan proses sensori bisa menjadi salah
satu penyebab anak mengalami keterlambatan bicara.
Jadi
siapa yang bilang jadi ibu dan mengasuh anak itu mudah?
Menjadi
seorang ibu itu bagi saya berarti harus belajar lagi. Lebih legowo dengan
kritik dan masukan. Kalau memang tidak paham ilmunya, gak akan ada salahnya
belajar lagi. Ya meskipun ga semua teori seputar parenting bisa di tiru dan
dilakukan.
Untuk
para orang tua dimanapun kalian berada, semoga pengalaman saya ini bisa
dijadikan pelajaran.
Hikmah
dari memiliki anak dengan speech delay adalah, saya menyadari bahwa:
"TV
dan gadget itu sungguh tidak memberikan manfaat untuk balita terutama mereka
yang usianya di bawah 2 tahun."
Oleh:
Risca Widyasari Anisa
sumber
: facebook.com
0 Response to "Naudzu Billah Min Dzalik. Hai Anakku! Sungguh Semua Ini Salahku.. Bacalah Ini Buat Yang Sayang Sama Anaknya.. Jangan Sampai Menyesal"
Posting Komentar